Teladan Seorang Gadis Remaja

Submitted by admin on Fri, 11/02/2012 - 11:29

Bacaan: 2 Raja-Raja 5:1-5

"Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya, `Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.`" (2 Raja-Raja 5:3)

Salah satu cara di antara sekian banyak cara untuk membaca dan mempelajari Alkitab adalah dengan menyelidiki kehidupan dan kesaksian tokoh-tokoh Alkitab. Di antara sekian banyak tokoh Alkitab, bagi kaum remaja tentu lebih baik dan lebih mudah jika pendekatannya adalah berkenalan dengan remaja-remaja teladan di dalam Alkitab. Banyak di antara mereka yang cukup terkenal, tetapi ada juga yang anonim, tidak disebutkan namanya. Salah satunya adalah gadis tersebut di atas. Apa dan di mana letak kelebihan gadis itu?

Alkitab mengatakan bahwa ia adalah seorang gadis Israel, yakni umat pilihan Allah, milik Allah. Tetapi, pada suatu peristiwa dalam peperangan antara orang Israel dengan orang Aram, gadis ini turut tertawan dan menjadi pelayan bagi nyonya Naaman. Dulu, ia adalah anak di dalam rumahnya sendiri. Namun sekarang keadaannya berubah, ia kehilangan statusnya sebagai anak, dan menjadi seorang pelayan, yang harus taat dan tunduk pada perintah majikannya. Situasi sudah berubah karena ia kehilangan kebebasannya. Oh, betapa menyedihkannya pengalaman pahit ini, jauh dari orang tua dan saudara, bahkan jauh dari teman-teman sejawatnya.

Bagaimana reaksinya terhadap perubahan ini? Apakah ia bersungut-sungut kepada Allah? Ia adalah orang Israel, umat pilihan Allah, milik Allah. Tetapi, sekarang ia menjadi milik keluarga Naaman. Mengapa Allah tidak menolongnya? Mengapa Allah membiarkannya mendapatkan pengalaman pahit ini? Tentu saja, ia pernah berseru kepada Allah, mohon pertolongan- Nya. Adakah Allah mendengar doanya? Mengapa Allah seolah hanya diam saja?

Serentetan pertanyaan ini sungguh aktual dan berat, salah-salah bisa menggoyahkan iman kita terhadap Allah. Bukankah, kita bisa menyaksikan banyak orang Kristen yang jatuh, meninggalkan Tuhan hanya karena pengalaman pahit dalam kehidupannya. Tetapi, gadis ini tidak demikian.

Situasi di luar itu sudah berubah, keadaan memang bisa berubah, tetapi hatinya tetap teguh. Imannya terhadap Allah tidak berubah. Secara luar ia menjadi milik keluarga Naaman, tetapi sebenarnya ia tetap menjadi milik keluarga Allah. Secara fisik ia berada di negeri Aram, tetapi ingatannya tetap kepada Allah, ia masih ingat nabi Allah, bahkan bersaksi baginya.

Karena imannya yang tidak berubah, maka kita bisa merasakan perbuatan kasihnya. Ia tidak membenci Naaman. Ia juga tidak bergirang karena Naaman terkena sakit kusta. Sebaliknya, ia memberikan kesaksian tentang nabi Allah yang dapat dipercaya. Ia memberi petunjuk di mana Naaman bisa mendapatkan pertolongan. Kita sungguh kagum melihat keyakinannya, padahal menurut kita, ia sendiri tidak ditolong oleh Tuhan. Menurut kita, Tuhan tidak menyatakan kuasa-Nya untuk gadis itu. Namun, ia tetap dengan penuh keyakinan berkata, "..., maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia ...." Ini merupakan iman yang tidak didasarkan pada pengalaman, tanpa ragu-ragu memberikan kesaksian yang meyakinkan orang lain. Kalau kita mendasarkan iman pada pengalaman, maka apabila situasi berubah, iman juga turut berubah.

Dalam kenyataan hidup, kadang-kadang kita juga bisa menghadapi situasi yang dapat menggoda iman kita, keadaan yang membuat kita ragu-ragu terhadap kesetiaan janji Tuhan. Kiranya gadis remaja ini dapat menjadi teladan bagi kita, supaya kita lebih bersandar pada Tuhan dalam situasi dan kondisi bagaimanapun.

Diambil dari:

Judul buletin : Tunas Ria, Tahun IX, Januari -- Februari 1979
Penulis : Titus Gunawan
Penerbit : Komisi Literatur Gereja Kristen Indonesia, Ujung Pandang Halaman: 2 -- 4
 

Member login

Request new password