Persahabatan

Siapa yang Dimaksud Sahabat Oleh Yesus?

Submitted by admin on Thu, 06/12/2014 - 16:02

Ada banyak orang yang mengenal Tuhan, giat melayani pekerjaan Tuhan, tapi Tuhan tidak menghendaki hanya sebatas itu. Dia ingin supaya kita hidup bergaul karib dengan-Nya. Yesus mengatakan bahwa Dia tidak lagi menyebut kita sebagai hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Tetapi Yesus menyebut kita sebagai sahabat, karena segala sesuatu yang Dia dengar dari Bapa akan diberitahukan-Nya kepada kita. Lantas, siapakah yang dimaksud dengan sahabat di sini?

Orang yang matanya tetap tertuju kepada Tuhan (Mazmur 25:15)

Selain mendekatkan diri kepada Tuhan, tapi juga memfokuskan tujuan hidupnya kepada perkara-perkara rohani. Jika masalah datang sekalipun, tidak membuat dia jauh dari Allah, sebaliknya malah membuatnya makin mendekat.

Orang yang menyadari kelemahannya dan keterbatasannya (Mazmur 25:16)

Faktor Persahabatan

Submitted by admin on Wed, 04/23/2014 - 12:51

Belum lama ini Gallup mengadakan survey dan menemukan bahwa mereka yang mengikuti ibadah gereja dengan seorang teman dekatnya akan lebih berkomitmen dalam menjalani kehidupan spiritual dan puas dengan ibadah gerejanya. Mengapa "faktor persahabatan" ini begitu bermakna bagi pelayanan anak muda?

Hasil survei menemukan bahwa mereka yang memiliki teman dekat dalam persekutuan memiliki kehadiran yang lebih baik, merasa lebih dekat, dan peduli secara pribadi pada pemimpin rohani dan anggota gereja mereka, serta menghabiskan lebih banyak waktu dalam doa dan penyembahan pada Tuhan setiap harinya. Secara umum, diketahui bahwa generasi ini meletakkan prioritas tertinggi pada persahabatan. Oleh karena itu, penemuan Gallup adalah satu kebenaran bagi para remaja.

Kecerdasan Sosial

Submitted by admin on Wed, 04/23/2014 - 12:42

"Ndut, kamu ini mau coba-coba ikut main sepak bola? Nggak salah nih, si Gendut mau main sepak bola?" Begitulah pelajar SMP yang gemuk itu diejek oleh kedua temannya yang bertubuh atletis menjelang pelajaran olahraga. Si Gendut terdiam lalu menjawab, "Aku memang tidak bisa main sepak bola. Tetapi, aku ingin mencoba. Tidak usah aku sepandai kamu, pokoknya asal bisa menendang bola. Sebentar, kamu tolong beri contoh bagaimana mengendalikan bola dan menendangnya. Aku ingin belajar sedikit saja dari kamu."

Kedua teman itu terperangah, lalu dengan terbata-bata menjawab, "Tentu! Kami akan menolong kamu. Sebentar kami akan beri contoh." Demikian ringkasan cerita yang dipakai oleh Daniel Goleman dalam buku Kecerdasan Sosial. Simak percakapan itu. Ucapan kedua teman itu jelas bernada sarkastik. Di kalangan pelajar, ejekan seperti itu biasanya memicu saling ejek yang mengarah ke pertengkaran.

Syndicate content
 

Member login

Request new password