Artikel ini akan terbagi menjadi empat bagian. Di bagian pertama artikel ini, kita akan membahas tentang starting point dari seluruh pembahasan kita, yaitu pertanyaan "Quo vadis?", kemana kita akan pergi? Karena kita harus tahu, kita dari mana, di mana kita sekarang ini, dan akan ke mana kita nantinya. Kita juga akan membahas tentang generasi-generasi digital dalam gereja dan tentang tujuan kita, apakah kita akan menuju status quo yang baru atau bagaimana. Di akhir artikel ini, kita akan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dengan gereja kita.
Di Manakah Kita?
Untuk memulai perjalanan kita, mari kita lihat Matius 3:1-2 yang berbicara tentang seorang nabi yang datang sebelum Kristus, dan sang nabi ini menyerukan sebuah kata, tidak hanya kepada orang-orang tua tetapi juga kepada anak-anak muda. Dan kata itu adalah, "Bertobatlah!".

Seruan itu ditujukan kepada para pemimpin agama, kepada orang-orang biasa, kepada anak-anak muda, bahkan kepada anak-anak kecil. Bagi konteks gereja kita saat ini, seruan ini ditujukan kepada mereka yang memangku jabatan gerejani, baik pendeta, majelis, maupun diaken, sekaligus kepada jemaat biasa, baik yang dewasa, pemuda, remaja, maupun kepada anak-anak. Seruan ini juga ditujukan kepada mereka yang kini berada di luar gereja, generasi-generasi yang mungkin merasa tidak diterima dalam gereja, atau tidak diakomodasi dengan baik dalam gereja. Hari ini, panggilan ini diserukan kepada kita bukan untuk menunjuk-nunjuk siapa yang salah, tetapi untuk melihat apa yang sudah terjadi pada gereja kita dan menyadarkan kita bahwa kita semua turut mengambil bagian atas apa yang telah terjadi pada gereja hari ini.
Di bagian pertama ini, saya akan bicara tentang dari mana kondisi gereja yang tertinggal ini dimulai. Dunia ini sudah mengalami sebuah revolusi komunikasi yang terjadi sekitar 20 tahun yang lalu. Dalam revolusi itu kita melihat ada begitu banyak perubahan yang terjadi akibat kemajuan teknologi komunikasi. Hal ini bahkan sudah diramalkan atau diprediksi jauh-jauh hari.
Sekarang mari kita lihat, di mana posisi kita sekarang. Riset oleh HootSuite dan We Are social, yaitu platform manajemen media sosial terhadap orang-orang Indonesia menunjukkan bahwa per Januari 2020 ada 64% penduduk Indonesia yaitu sekitar 175,4 juta orang, dengan rentang usia 16-64 tahun sudah terkoneksi dengan internet dan rata-rata menghabiskan 7-8 jam per hari untuk mengakses internet. Durasi ini mungkin tidak dalam sekali duduk, tetapi akumulasi dari sekitar 15, 10, 30 menit yang kita gunakan untuk mengakses ini-itu di dunia maya. Dan itu cukup membuat apa yang ada di dalam internet itu terpapar ke dalam diri kita.
Pada tahun 2018, pemerintah Indonesia mencanangkan Gerakan Indonesia Go Digital. Tujuannya adalah menjadikan Indonesia sebagai titik ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. Memang, bulan Maret yang lalu kita tiba-tiba dihantam oleh pandemi COVID ini, tetapi bukan berarti pencanangan itu tidak tercapai. Sebaliknya, ketika pandemi ini terjadi, ada semakin banyak orang yang terkoneksi dengan internet. Tidak hanya orang-orang di kota saja sebab pada awalnya, Gerakan Indonesia Go Digital justru menyasar para petani, pedagang, dan para nelayan sehingga kini masyarakat yang tinggal di pelosok-pelosok Indonesia pun sudah terkoneksi dengan internet.
Karena itu, kita tentu bisa melihat bahwa tren digitalisasi dan segi-segi masyarakat yang terkoneksi dengan internet semakin hari semakin meningkat. Terlebih lagi di bidang pendidikan yang menterinya adalah salah satu pemimpin dari unicornnya Indonesia. Selain pendidikan, bidang kesehatan pun juga semakin terdorong oleh teknologi internet, hal ini terbukti dengan begitu banyaknya hal yang bisa di-share dan bisa kita ketahui terkait dengan COVID-19. Begitu banyak segi kehidupan yang semakin terkoneksi dengan internet dan teknologi komunikasi, tetapi bagaimana dengan gereja?
Inilah yang terjadi dengan gereja kita, sesuatu yang menurut saya, menjadi tanggung jawab kita semua. Yang pertama, gereja tertinggal, bahkan masih ada yang melarang penggunaan teknologi dalam ibadah. Tahun lalu, ketika SABDA mengadakan pelatihan Alkitab Suku, ada sebuah sharing dari seorang peserta yang menceritakan bahwa ada seorang pendeta di sebuah gereja yang melarang jemaatnya membawa HP ke dalam gereja, pendeta itu juga melarang jemaatnya membaca Alkitab lewat HP mereka. Menurut saya, ini adalah sesuatu yang menyedihkan. Sudah lebih dari 20 tahun yang lalu dikatakan bahwa akan terjadi pergeseran teknologi besar-besaran, tetapi masih ada saja gereja yang dengan bangga menolak teknologi. Karena itu tidak heran jika sekarang gereja tidak siap menghadapi lockdown dan teknologi yang baru.
Selain itu, minimnya kehadiran generasi muda di gereja juga menjadi masalah yang turut menambah beban gereja saat ini. Bagi Anda yang terlibat dalam pelayanan di gereja, atau mungkin sebagai jemaat, izinkan saya mengajukan 3 pertanyaan berikut:
1. Berapa banyak anak muda yang masih ada di dalam gereja?
2. Berapa banyak dari mereka yang diperlengkapi untuk turut melayani dengan cara mereka? Yaitu cara digital.
3. Berapa banyak dari mereka yang turut mengambil bagian dalam pengambilan keputusan, dalam langkah gereja? Ke mana Gereja akan pergi, Apakah mereka dilibatkan dalam pengambilan keputusannya? Apakah suara mereka didengarkan? Atau Apakah gereja mau melihat kebutuhan mereka?
Dalam hal ini pun gereja juga sangat jauh tertinggal dari dunia. Sementara gereja masih berkutat dengan hal-hal remeh terkait boleh atau tidak menerapkan teknologi dalam ibadah, baik dalam khotbah maupun dalam pelayanan sakramen, dunia terus bergerak maju. Dunia terus menggarami generasi muda. Dunia mengenali kebutuhan generasi muda yakni aktualisasi diri, kesenangan, dan wadah untuk belajar sesuatu, sesuatu yang tidak mereka dapatkan di keluarga mereka, atau dari gereja. Dunia membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengaktualisasikan diri, bahkan sebebas-bebasnya. Apakah gereja menyadari hal ini? Apa yang sudah kita berikan kepada mereka? Di masa pandemi ini, gereja juga jarang memikirkan hal-hal yang tidak downloadble, kebanyakan hanya tentang konten, tentang apa saja yang bisa di-share secara online, tetapi melupakan hal-hal yang tidak bisa di-download yaitu kedekatan, penerimaan, dan ruang untuk bereksperimen dan melakukan kesalahan. Inilah yang membuat dunia semakin kuat mencengkeram anak-anak muda atau generasi digital yang ada di dalam gereja.
Ada sebuah cerita yang menyedihkan dari awal pandemi COVID ini, tetapi saya pikir bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Di minggu awal pandemi COVID-19, ada berita yang berseliweran di sosial media tentang respons cepat industri pornografi dan gaming terhadap lockdown yang diterapkan di Amerika maupun di Eropa. Saat itu, sebuah situs porno terkenal menggratiskan konten premium mereka bagi pengakses situs mereka dari kedua wilayah tersebut. Konten-kontent premium senilai ribuan dolar dan merupakan pemasukan bagi situs mereka itu mereka gratiskan, seolah-olah mengatakan kepada dunia bahwa, "Biarkan kami menemani Anda dalam lockdown, dijamin tidak akan bosan dengan ribuan konten kami!" Hal yang sama juga dilakukan oleh salah satu studio game. Banyak studio yang mengratiskan game mereka, bahkan ada satu studio yang menggratiskan beberapa judul game Triple A mereka, yang kalau di rupiahkan juga sangat besar. Itu adalah aset mereka, tapi mereka menggratiskannya untuk "menemani" orang-orang dalam lockdown mereka. Sementara itu, gereja baru dua sampai tiga minggu berikutnya baru membuat konten untuk merespons kondisi ini dan terkadang masing ragu-ragu "Bolehkah ini, bolehkan itu bijakkah seperti ini, bijakkah itu?" sehingga terlambat dalam memberi bantuan bagi orang-orang terkurung dalam keterasingan di rumah mereka.
Generasi-Generasi Digital dalam Gereja
Nah kita sekarang beralih pada generasi-generasi digital di dalam gereja. Generasi-generasi ini tidak hanya generasi X, generasi Y, Z, tetapi juga generasi-generasi yang akan datang; generasi Alpha, Beta, dan seterusnya selama bumi ini masih ada. Namun, bisa dibilang bahwa generasi X adalah generasi digital yang pertama.
Secara singkat dan sederhana, generasi digital adalah mereka yang lahir, bekerja, berinteraksi, bahkan bergereja secara digital bahkan sebelum pandemi ini. Mereka bukanlah digital imigran. Sebaliknya, mereka fasih sekali dalam bahasa-bahsa teknologi, mereka tidak canggung atau kaget untuk berinteraksi dengan bot atau mesin, sembari membangun relasi yang real dan tulus melalui teknologi. Mereka bisa disebut sebagai pemilik dunia digital ini.
Salah satu karakter yang dimiliki oleh generasi digital adalah keterbukaan untuk berkolaborasi. Ini adalah salah satu sifat yang cukup menonjol, tetapi sering disalah mengerti oleh generasi sebelumnya. Di mata generasi digital, kolaborasi adalah kerjasama yang sejajar, sementara generasi yang sebelumnya memiliki sistem yang hirarkis. Hal ini bukan berarti generasi digital memiliki pandangan yang benar, atau generasi sebelumnya salah, tetapi tampaknya ada semacam ketidaksinkronan antar kedua generasi, bahkan sama-sama tidak mau mengerti. Ini yang sering kali membuat clash atau friksi antargenerasi. Hal ini juga yang membuat anak-anak muda sering kali merasa bahwa mereka tidak diakomodasi dengan baik oleh para pemangku jabatan dari generasi sebelumnya.
Kemampuan untuk berkolaborasi ini membuat generasi digital memiliki sifat interpreneur, digipreneur, dan artprenuer yang sangat tinggi. Hal ini bisa kita perhatikan dari perusahaan-perusahaan unicorn yang dipimpin, dijalankan, dan beroperasi dengan cara pikir generasi digital. Mereka bukan hanya entrepreneur yang berani mengambil resiko besar untuk mendapat hasil yang lebih besar, tetapi mereka juga adalah para digipreneur; orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memakai alat-alat dan resources digital, bahkan membuat perangkat atau program yang tailored untuk perusahaan mereka, agar dapat menjangkau lebih banyak orang demi meningkatkan omset mereka serta membangun perusahaan mereka.
Pernahkah kita berpikir bahwa di gereja kita, kita memiliki anak-anak muda, generasi-generasi digital yang memiliki sifat tidak hanya entreprenur dan digipreneur, tetapi juga churchpreneur? Yang dimaksud dengan istilah churchpreneur ini bukanlah gereja yang mengajarkan jemaatnya untuk berwirausaha, tetapi memiliki kemampuan atau keinginan besar untuk melakukan church planting, dengan cara yang digital. Mereka tidak hanya sekadar ingin eksis di dunia digital, tetapi membangun wadah kekristenan di sana.
Quo Vadis?
Setelah mengetahui posisi kita saat ini, sekarang saatnya menentukan ke manakah kita akan pergi? Kita tentu tidak akan pergi untuk membangun status quo yang baru karena segala sesuatu yang berada dalam dunia digital sekarang ini tidak hanya berhenti pada satu titik atau stagnan, sebab jika demikian orang atau institusi tersebut sedang menyiapkan kuburannya sendiri. Generasi digital memiliki cara berpikir yang tidak hanya inovatif, tapi juga mereka memiliki siklus; tidak hanya berhenti pada satu titik, tetapi terus-menerus mengalami pembaruan. Hal ini agar mereka bisa menjawab tantangan-tantangan berikutnya karena teknologi berkembang begitu cepat.
<