Klik x untuk menutup hasil pencarian. Cari di situs Remaja Kristen

6 Hal yang Harus Diketahui Orang Kristen tentang Gen Z

Submitted by admin on Thu, 08/04/2022 - 10:02

Generasi terdepan Gen Z menginjak usia 25 pada tahun ini, yang berarti kelompok ini mulai lulus dari perguruan tinggi, mendapatkan pekerjaan, dan menyewa apartemen. Mereka cukup umur untuk minum alkohol, punya hak suara untuk memilih, menyewa mobil -- dan terlibat aktif di gereja Anda.

Penelitian memberi tahu kita bahwa Gen Z cenderung tidak membaca Alkitab dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka juga cenderung menempuh studi di perguruan tinggi, percaya bahwa pemerintah harus berbuat lebih banyak untuk memecahkan masalah, dan memiliki akun TikTok.

Mereka hidup di dunia digital yang berubah dengan cepat -- jika mereka menghabiskan beberapa hari luring, mereka tidak tahu lelucon yang ditertawakan teman-teman mereka. Akibatnya, Gen Z tidak kohesif seperti generasi sebelumnya: referensi budaya dan pengalaman tumbuh dewasa anak berusia 25 tahun tidak sama untuk anak berusia 19 tahun, dan berbeda lagi untuk anak berusia 14 tahun.

Gambar: Gen z

"Gen Z berakar pada kebangkitan teknologi dan kebaruan yang diciptakan," kata Chase Daws, hamba Tuhan kampus Reformed University Fellowship (RUF) di University of California, Berkeley. "Mereka mengalami hal-hal di klip jauh lebih cepat daripada orang lain. Mereka menempati dunia yang tidak bisa kita akses dan tidak bisa diikuti."

Akan tetapi, mereka bukannya tidak bisa diakses. Mereka dengan jelas melihat kehancuran dunia. Mereka tidak takut dengan pertanyaan sulit tentang makna hidup atau pencarian keadilan. Mereka mencari komunitas. Dan, semua hal itu ditemukan dalam Injil.

"Hal yang selalu berhasil adalah pelayanan Firman dan sakramen," kata Daws. Gen Z tidak berbeda.

Jadi, apa yang perlu diketahui oleh para pendeta dan anggota gereja untuk menyambut dan merangkul generasi orang percaya yang baru ini? TGC bertanya kepada para pekerja pelayanan kampus di seluruh negeri tentang tren yang harus disiapkan oleh semua pemimpin gereja untuk memberikan perhatian pada generasi berikutnya.

Gen Z itu (Semacam) Ateis

Tidak ada yang memperdebatkan bahwa Gen Z kurang religius dibandingkan generasi lainnya.

"Kami melihat itu secara konsisten," kata Tony Dentman, direktur area Campus Outreach di University of Illinois Chicago. "Dahulu, ketika saya berkomunikasi dengan seorang mahasiswa baru di perguruan tinggi, mereka akan mengatakan bahwa orang tua mereka -- atau seseorang dari generasi orang tua mereka -- membawa mereka ke gereja."

Namun, dalam dua hingga tiga tahun terakhir, para mahasiswa di Chicago mulai mengatakan kepadanya bahwa generasi kakek-nenek merekalah yang menjadi penghubung iman mereka.

"Menurut pengalaman saya, kebanyakan dari mereka akan mengklaim bahwa mereka ateis," kata Dentman. "Namun, begitu kami berbicara, dan saya memberi tahu mereka apa itu ateis, mereka menyadari bahwa mereka agnostik. Mereka tidak tahu [tentang Allah], tidak peduli, dan tidak tahu apakah penting untuk mencari tahu."

Jadi, tidak mengherankan jika Gen Z memiliki literasi alkitabiah yang rendah. Mereka cenderung tidak terbiasa dengan Alkitab, tidak mengetahui cara menggunakannya, atau tidak percaya bahwa Alkitab berisi semua yang perlu diketahui seseorang untuk menjalani kehidupan yang bermakna dibandingkan generasi sebelumnya.

Karena lebih sedikit dari mereka yang mengenal seorang Kristen di kehidupan nyata, sering kali konsepsi mereka tentang agama datang dari media -- Kekristenan tampak seperti sesuatu yang berkaitan dengan anggota partai, sesuatu yang konservatif, bahkan sesuatu yang dari Selatan atau sesuatu yang anti-masker.

Akan tetapi, bahkan jika label Kristen tidak menarik, Gen Z bersedia berbicara tentang hal-hal yang mendalam -- pertanyaan-pertanyaan tentang ketidakadilan, identitas, makna hidup.

"Ketika Anda terlibat langsung dengan mereka sejak awal, manusia tetaplah manusia," kata Daws. "Anda dapat melakukan percakapan yang selalu kami lakukan tentang siapa saya, mengapa saya di sini, mengapa saya merasa bersalah, seperti apa kesuksesan yang sehat, bagaimana saya menangani kegagalan dengan cara yang sehat."

Titik-titik hubungan itu -- termasuk kesepakatan tentang kehancuran dunia, atau keseriusan masalah seperti umat manusia, panggilan, atau penatalayanan ciptaan -- secara alami menunjuk ke Kekristenan.

"Hampir semua orang terbuka untuk membicarakan hal-hal tentang Allah," kata Dentman.

Dan, hampir semua orang mencari seseorang untuk diajak bicara.

Gen Z Mencari Komunitas (yang Lebih Baik)

Bahkan sebelum COVID, Gen Z adalah generasi paling kesepian yang pernah tercatat.

"Banyak mahasiswa kami benar-benar terbungkus dalam gambaran idealis tentang suatu hubungan, baik melalui media sosial atau budaya pop," kata staf kampus Berkeley RUF Morgan Kendrick. Mereka melihat -- dan mengunggah -- gambar kerumunan teman yang tertawa-tawa di restoran atau pasangan yang menari di pantai.

"Jika Anda membaca komentar, mereka dibanjiri dengan 'Saya ingin ini' atau '#tujuan'," katanya. "Ada keinginan untuk menjalin hubungan, tetapi ada keterputusan besar dalam mengetahui cara mengolahnya."

Sangat mudah bagi pelayanan gereja atau kampus untuk masuk ke celah itu.

Baru-baru ini, Campus Outreach di UIC Chicago mulai mengadakan acara-acara yang tidak secara eksplisit Kristen. "Awalnya sulit bagi saya," kata Dentman. "Saya merasa seperti, kami akan menghabiskan uang dan mengumpulkan orang, tetapi tidak memberikan presentasi Injil?"

Akan tetapi, stafnya melihat tren yang sama yang mendorong Tim Keller untuk menulis prekuel A Reason for God. "Semua hal penginjilan kami dimulai dengan fakta bahwa Anda menganggap Allah itu ada," kata Dentman. Akan tetapi, untuk mencapai percakapan itu, "kita perlu melakukan pra-penginjilan."

Untuk itu, Campus Outreach menawarkan komunitas. "Kami membuat organisasi hanya untuk mahasiswa baru bersosialisasi," katanya. "Ini bahkan bukan Kristen, tetapi telah membuka pintu untuk lebih banyak percakapan Kristen daripada apa pun yang telah kami lakukan." Anak-anak akan datang untuk berkumpul bersama dan pergi dengan undangan makan siang atau minum kopi bersama staf Campus Outreach atau sukarelawan.

Malisa Ellis melihat hal yang sama pada organisasi Cru di Boston.

"Sebelum COVID, kami membuat makanan dan membawanya ke suatu daerah untuk memberi makan para atlet," katanya. "Tidak ada yang spiritual tentang itu. Mahasiswa mulai membawa teman-teman mereka -- kami akhirnya kehabisan meja. Itulah satu-satunya tempat kami bisa membawa orang-orang dalam perjalanan mereka."

Belakangan ini, dia melihat lebih banyak mahasiswa non-Kristen yang mau datang ke kelompok kecil untuk belajar Alkitab.

Mahasiswa-mahasiswa Kristen juga datang. "Sebelum COVID, kami kesulitan untuk membuat mahasiswa muncul dalam kelompok kecil dan tidak merasa ganjil," kata Craig Millard, pendeta perguruan tinggi di Redeemer Community Church non-denominasi di Birmingham. "Tahun lalu, kami hampir tidak ada masalah saat mahasiswa tidak datang. Faktanya, jumlah kami meningkat tiga kali lipat selama COVID."

Jika Anda tertarik untuk menumbuhkan komunitas Gen Z, penting untuk memiliki kelompok inti dari orang-orang muda yang berkomitmen di pusat tersebut, kata Kendrick. Sama seperti perintisan gereja, peserta yang andal memberikan inti bagi pelayanan demi pertumbuhan yang cepat dalam jumlah dan intensitas.

Gen Z itu (Cemas) Digital

Terkait dengan hilangnya komunitas tatap muka Gen Z adalah munculnya smartphone dan -- secara bersamaan -- tantangan kesehatan mental. Gen Z terkadang disebut iGen -- generasi yang selalu membawa ponsel mereka.

"Tingkat kepanikannya tinggi," kata Ellis. "Semuanya ada di luar sana sepanjang waktu di media sosial .... Ketika generasi ini condong ke dalamnya, kecemasan mereka meningkat. Akan tetapi, ketika mereka melepaskan diri darinya, mereka merasa seperti kehilangan. Mereka terus-menerus berjuang bolak-balik antara menghapus dan menginstal ulang media sosial mereka."

Sebagian dari masalahnya adalah bahwa setiap platform media sosial adalah seperti panggung di mana Gen Z tampil dan membandingkan diri mereka dengan orang lain. Akan tetapi, telepon juga merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam seputar dekonstruksi, kata Daws.

"Tidak ada struktur -- tidak ada norma atau tradisi atau identitas bersama -- yang bisa mereka masuki," katanya. Faktanya, tujuan terbesar Gen Z tampaknya adalah proliferasi pilihan.

"Apa yang mereka coba ciptakan adalah kehidupan di mana mereka tidak pernah diperbudak oleh apa pun, di mana selalu ada jalan keluar," kata Daws.

Sepertinya selalu memiliki pintu belakang akan membebaskan; sebaliknya, sering kali membuat ketidakstabilan. Menjadi cemas secara sosial sekarang begitu umum sehingga hampir keren.

"Aneh untuk mengatakan, 'Saya baik-baik saja,'" kata Millard. "Ini hampir seperti jika Anda tidak merasa cemas atau kewalahan, itu adalah seperti Anda sedang apa?"

Kaum muda bukannya tidak menyadari masalah ini. "Ketika kami mengumumkan bahwa kami akan melakukan puasa 24 jam di pelayanan-penjangkauan, mereka langsung memikirkan puasa dari media sosial," kata Millard. "Ketika saya pertama kali memulai, saya pikir itu adalah cara mudah untuk keluar dari puasa dari makanan. Tapi, sekarang saya bisa melihat betapa sulitnya bagi mereka .... Mahasiswa lebih sadar betapa merusaknya untuk terus-menerus daring, tetapi itu sangat terserap dalam cara mereka berpikir tentang dunia."

Baru-baru ini, salah satu mahasiswa Dentman menanyakan beberapa ayat Alkitab tentang kesepian, tersesat, dan merasa tidak berharga. Di situlah Gen Z, pikirnya.

Dia melihat ke arah yang benar. Perasaan tidak mampu, kecemasan, atau depresi tidak berada di luar Kekristenan -- sebaliknya, Kekristenan "dibuat khusus untuk mereka," kata Daws. "Kita perlu menggandakan seluruh nasihat Allah. Alkitab mempersiapkan Anda untuk penderitaan, untuk sukacita, untuk kesedihan, untuk kegagalan total."

Dan, teknologi tidak semuanya buruk. Ini juga menawarkan peluang. Di Boston, Cru telah berhasil terhubung dengan anak-anak secara daring. Di California, Kickert melihat perlunya lebih banyak kehadiran Kristen secara daring, bukan lebih sedikit.

"Begitu banyak opini mereka terbentuk melalui rangkaian Twitter," katanya. "Saya ingin tahu seperti apa orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman untuk memasuki bidang itu dengan cara yang bijaksana dan masuk akal. Apakah itu mungkin? Bisakah Anda melepaskan diri dari racun ruang itu sambil secara bersamaan melayani orang-orang yang membentuk opini mereka di sana?"

Hal ini mungkin. Akan tetapi, mungkin bukan orang tua yang melakukannya. Mahasiswa-mahasiswanya cenderung menyaring dengan antusias: jika mereka mengikuti pendeta mereka secara daring dan dia menulis pesan yang mereka setujui, mereka tidak banyak bicara.

"Tetapi jika mereka melihat pesan yang tidak mereka sukai, mereka menggunakannya sebagai filter" dan mungkin berhenti mengikuti atau mendengarkan, katanya. "Mungkin lebih baik tidak berada di sana."

Gen Z (Sangat) Berprinsip

Gen Z merasa kuat tentang beberapa prinsip (menerima keragaman; tidak menantang keyakinan orang lain) dan kurang kuat tentang prinsip yang lain (berbohong; bahwa prinsip moral tidak berubah dengan masyarakat).

"Kita perlu menggandakan seluruh nasihat Allah. Alkitab mempersiapkan Anda untuk penderitaan, untuk sukacita, untuk kesedihan, untuk kegagalan total."


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Salah satu prinsip favorit mereka adalah mencocokkan tindakan dengan kata-kata. Sekitar empat dari lima Gen Z mengatakan mereka akan "berhenti membeli merek dan menyebarkan berita" tentang perusahaan-perusahaan jika mereka menganggap kampanye mereka macho, rasis, atau homofobik. Ketika ditanya bagaimana seorang Kristen dapat menarik mereka, pilihan pertama Gen Z adalah "melihat bagaimana orang itu berperilaku, membiarkan tindakan mereka berbicara daripada menggunakan kata-kata untuk menjelaskan iman mereka kepada saya."

Di gereja, "penjangkauan Anda ke dunia harus mewujudkan kehidupan Yesus -- tidak bisa semuanya hanya perkataan," kata Dentman. "Gen Z sangat sensitif untuk mencoba membuat perbedaan di dunia."

Itu berarti kaum muda "lebih cepat meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai dengan ide-ide mereka tentang benar dan salah," kata Kickert. Standar mereka sangat tinggi, kemungkinan diperburuk oleh kurasi yang dapat mereka lakukan secara daring. Misalnya, aplikasi kencan memungkinkan Anda mengurutkan calon pasangan berdasarkan partai politik, ras, geografi, dan konsumsi alkohol.

"Anda dapat menyaring mereka yang tidak memenuhi standar Anda," katanya. "Itu meluas ke banyak pemikiran mereka."

Namun, keinginan Gen Z untuk tindakan berprinsip juga berarti "mengasihi anak yatim dan janda dan orang miskin yang akan menarik Gen Z ke dalam gereja mungkin lebih banyak dari generasi sebelumnya," kata Dentman.

Millard merekomendasikan gereja menyambut mahasiswa dengan hal-hal yang harus dilakukan -- melayani di pelayanan anak-anak, menyambut pengunjung di pintu, bergabung dengan kelompok rumah, menghadiri sarapan pria.

"Jika Anda dapat memberikan visi dan memberi tahu mereka mengapa menyapa orang-orang di gereja itu penting -- itu adalah bertemu seseorang yang kesepian dan tersesat dan memberi mereka tempat yang terasa seperti rumah dan keluarga -- Gen Z akan mengambil T-shirt sukarelawan dan bertanggung jawab," kata Dentman. "Mereka ingin membuat perbedaan."

Gen Z Tidak Sempurna dengan Komunikasi atau Komitmen

Ironisnya, generasi yang paling terhubung dalam sejarah juga sulit dipegang.

Kiat dari pendeta kampus termasuk menetapkan harapan yang jelas: Minta mereka untuk meletakkan telepon mereka dalam pertemuan. Beri tahu mereka bahwa ketika Anda menghubungi mereka, mereka perlu untuk merespons Anda dalam jangka waktu tertentu. Mereka bahkan mungkin memerlukan penjelasan tentang akibat dari pekerjaan yang tidak diselesaikan -- selama dua tahun terakhir, COVID telah menghapus banyak konsekuensi alami mereka di sekolah.

"Jangan menganggapnya sebagai tanda tidak hormat," kata Millard. "Daripada frustrasi, beri tahu mereka apa yang Anda ingin mereka lakukan."

Gen Z Punya Semangat Misi

Delapan puluh dua persen remaja Kristen memberi tahu Barna bahwa penting bagi mereka untuk membagikan iman mereka. Mereka serius: hampir 80 persen telah berbicara dengan seseorang tentang Tuhan dalam satu tahun terakhir. Melakukan hal itu tidak membuat mereka merasa takut atau marah; sebaliknya, percakapan itu membuat mereka merasa tenang dan damai.

"Mereka memiliki semangat untuk Allah," kata Millard. "Ini benar-benar menarik. ... Mereka ingin membagikan iman mereka, berbicara dengan orang, ditantang, memasuki percakapan yang sebelumnya tabu. Mereka ingin melakukan hal-hal itu."

"Generasi ini adalah misionaris kita," kata Dentman. "Para mahasiswa ini datang dalam dunia yang bukan Kristen." Sementara generasi sebelumnya tumbuh di Amerika Kristen dan pergi ke luar negeri untuk menemukan kelompok orang yang belum terjangkau, Gen Z "lebih siap untuk menjangkau Amerika Serikat (pasca-Kristen), atau generasi berikutnya, daripada siapa pun."

Tidak hanya itu, tetapi mereka dapat pergi ke tempat yang generasi sebelumnya tidak bisa.

"Mereka sedang menciptakan dunia virtual sekarang," kata Dentman. "Dahulu, ketika kebangunan rohani sedang berlangsung, mungkin sulit untuk berkeliling tanpa beberapa orang Kristen memberikan Anda pamflet atau berbicara dengan Anda di tempat pangkas rambut."

Saat ini, sangat mudah untuk berpindah-pindah web tanpa pernah masuk ke dalam agama Kristen, katanya. "Saya pikir misi digital akan dipimpin oleh generasi ini. ... Allah sedang melakukan sesuatu yang unik pada generasi ini."

Millard melihat "peluang besar untuk pekerjaan kerajaan yang hebat" pada Gen Z. "Saya sangat mencintai generasi ini. Pekerjaan saya dengan mereka menggairahkan saya ke mana gereja akan pergi."

Nasihatnya kepada orang Kristen yang lebih tua: "Jangan takut dengan pertanyaan mereka. Jangan takut dengan keraguan mereka. Teruslah berbicara kebenaran." (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/gen-z
Judul asli artikel : 6 Things Christians Should Know About Gen Z
Penulis artikel : Sarah Eekhoff Zylstra
 

Member login

Request new password