Klik x untuk menutup hasil pencarian. Cari di situs Remaja Kristen

Mengajar Alkitab Dengan Kreatif

Submitted by admin on Fri, 11/09/2012 - 13:51

Diringkas Oleh: Truly Almendo Pasaribu

Kreatif adalah kata yang mengasyikkan. Saat menggunakan kata itu, kita membayangkan orang yang memiliki karunia untuk menyegarkan suasana dan bertindak secara spontan. Banyak pengajar Alkitab awam mendambakan karunia seperti ini. Guru yang kreatif membuat kelasnya segar, bergairah, dan menarik sehingga kelas mereka menjadi produktif dan berbuah. Mereka ingin mengajar dengan kreatif, tetapi mereka menganggap hal ini mustahil. Nyatanya, keinginan untuk mengajar dengan kreatif ini bukanlah hal yang mustahil. Kita perlu memahami pengajaran apa yang kita dambakan.

A. Pengajaran yang Kita Cari

Ada guru yang mengeluh karena murid tidak memerhatikan dan menaruh minat pada pelajarannya. Ada guru yang ingin muridnya mendengar dan mengucapkan kembali pelajaran Alkitab. Ada juga guru yang mengajar dan meminta muridnya menghafal kata demi kata. Setiap guru memunyai pengertian yang berbeda-beda tentang mengajar. Namun demikian, bagi orang Kristen, sasaran dari pengajaran Alkitab adalah kehidupan yang berbuah di luar jam pelajaran.

  1. Tahap Menghafal
  2. "Ching fu su". Bacalah sekali lagi ungkapan itu. Sekarang tutuplah mata Anda dan ulangilah di luar kepala. Mungkin Anda tidak menyadari, tetapi Anda sudah belajar sesuatu! Apa yang Anda pelajari? "Ching fu su" yaitu suatu ungkapan yang tidak memunyai arti.

    Itulah yang disebut belajar dengan cara menghafal tanpa berpikir: mengulangi sesuatu di luar kepala tanpa memikirkan apa artinya. Sayang sekali, banyak pengajaran di gereja yang hanya sampai pada tahap ini. Barangkali murid-murid dilatih menghafal ayat tersebut di luar kepala tanpa memikirkan artinya. Biasanya, pengajaran seperti ini akan sia-sia karena pelajaran Alkitab yang dihafal tanpa dipikirkan maknanya, tidak mungkin dapat mengubah kehidupan seseorang.

  3. Tahap Mengenali
  4. Kembali kepada ucapan "Ching fu su". Seandainya Anda diberi tahu bahwa ucapan tersebut adalah bahasa Korea yang berarti "Allah itu kasih", maka Anda sudah selangkah lebih maju. Sekarang ungkapan itu setidaknya sudah memunyai arti bagi Anda. Untuk mengetahui apakah para murid sudah belajar pada tahap itu, mungkin guru bisa mengadakan tes sederhana: Benar atau salah? "Ching fu su" berarti "Allah itu baik". Atau, tes pilihan ganda.

    Tidak sukar untuk mengajar atau belajar pada tahap ini karena para murid hanya perlu mengenali sesuatu yang baru dikatakan atau dibacakan. Sering kali, inilah yang terjadi di dalam kelas remaja kita. Ternyata banyak murid sekolah minggu yang mempelajari kebenaran Alkitab hanya sampai tahap ini saja. Suatu survei di Universitas Negeri di Michigan menunjukkan bahwa 74 persen dari kelompok mahasiswa menyetujui pernyataan bahwa "Kristus mati karena dosa-dosa manusia". Namun pada survei yang sama, hanya 38% dari mereka yang menyetujui bahwa "iman dalam Kristus diperlukan untuk memperoleh keselamatan". Mereka mengenali dan menyetujui gagasan yang sudah mereka kenal dengan baik. Akan tetapi, mereka tidak mengerti maksudnya.

    Sayangnya, kemampuan mengenali suatu kebenaran tidak berarti bahwa anak didik Anda telah menjadi pelaku firman. Ini juga tidak berarti bahwa kebenaran yang dikenali para murid telah menyatu dengan seluruh konsep pemahaman mereka tentang Alkitab dan kehidupan. Pengajaran dalam tahap ini belum menghasilkan perubahan hidup.

  5. Tahap Mengucapkan Kembali
  6. Setelah menyelesaikan satu seri Alkitab, Pak Rano ingin menguji anak-anak di kelasnya dengan menggunakan kejadian yang dialaminya. "Adik-Adik, minggu yang lalu saya berbicara dengan Tommy. Dia mengatakan bahwa hari Minggu ini, ia akan disidi di gerejanya. Uskup di gerejanya akan mengurapinya dengan Roh Kudus dan dia yakin bahwa dengan pertolongan Roh Kudus, dia sudah layak masuk surga. Seandainya Tommy bercerita kepada adik-adik, apakah yang akan kalian katakan kepadanya agar dia mengerti jalan yang harus ditempuh untuk masuk surga?" Lalu Pak Rano berhenti dan menunggu jawaban.

    Untuk menjawab pertanyaan ini, murid perlu menguasai beberapa gagasan kebenaran dan menjelaskan satu kesatuan pikiran secara lengkap. Walaupun tahap ini belum cukup, tetapi tahap ini penting. Alkitab adalah firman Allah yang memberikan informasi tentang diri-Nya, kita, dan dunia sekitar kita. Alkitab menyatakan realitas fundamental yang perlu menjadi dasar hidup kita. Itulah sebabnya, ajaran Alkitab harus dimengerti. Kita harus menguasainya sebagai suatu sistem yang mengendalikan pola pikir hidup kita. Cara belajar kita akan bermakna jika kita dapat mengambil kebenaran Alkitab itu, menghubungkannya dengan ide-ide lain, dan menyatakan kebenaran itu dengan kata-kata kita sendiri.

    Sayangnya, pengajaran seperti ini pada umumnya tidak diterapkan dalam sekolah minggu. Banyak guru yang cukup puas melihat para murid mereka mengenali kebenaran yang diajarkan. Hanya sedikit sekali guru yang berusaha menolong murid-muridnya untuk menguasai ajaran-ajaran firman Allah dengan baik.

  7. Tahap Menghubungkan
  8. Firman Allah bukanlah sekadar informasi saja. Firman Allah adalah titik pertemuan antara manusia dengan Allah. Perbedaan antara memperoleh informasi dan memperoleh pengalaman pribadi dengan Allah, terletak pada sikap kita. Sikap kita ini penting sekali. Agar kita bisa menyikapi kebenaran Allah dengan tepat, kita perlu melihat hubungan antara kebenaran itu dengan kehidupan kita.

    Tahap pengajaran ini membutuhkan proses pengucapan ulang. Ketika memikirkan pengajaran alkitabiah dengan kata-katanya sendiri, seseorang akan mendapatkan ilham tentang makna pengajaran alkitabiah dalam kehidupan. Jika demikian, maka terbukalah jalan baginya untuk menjadi pelaku firman.

    Ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam membimbing muridnya, untuk melibatkan diri dengan firman Allah. Jika seorang guru mengajar muridnya untuk memberi respons yang tepat, maka ajarannya selaras dengan sifat firman Allah. Apabila Alkitab diajarkan selaras dengan sifat firman Allah, maka ajaran itu akan menghasilkan perubahan. Jika kita belajar, tetapi belum sampai pada tahap ini, maka apa yang kita pelajari itu belum cukup.

  9. Tahap Merealisasi
  10. Inilah tujuan dari pengajaran Alkitab, yaitu merealisasikannya. Dengan kata lain, pelajaran itu diterapkan secara nyata dalam pengalaman kita. Kita tidak hanya perlu mengerti cara menyikapi Alkitab dengan tepat, namun kita juga perlu mempraktikkan sikap itu.

    Para guru perlu mengajar dalam tahap ini agar murid-muridnya mengerti kebenaran Allah dan menerapkannya dalam kehidupannya. Hanya firman Allah yang dipelajari dengan cara seperti inilah, yang dapat mengubah kehidupan.

B. Belajar dan Mengajar Secara Kreatif

Setelah memahami tahapan-tahapan yang berbeda, sekarang kita dapat memberi definisi yang tepat pada istilah "Mengajar Secara Kreatif". Mengajar secara kreatif berarti mengajar dengan memusatkan perhatian pada aktivitas-aktivitas belajar, yang dapat meningkatkan tahap belajar para pembelajar.

Dalam praktiknya, apakah perbedaan antara mengajar secara kreatif dan mengajar secara tidak kreatif?

  1. Fakta vs Makna
  2. Datanglah ke beberapa kelas sekolah minggu di gereja Anda, kira-kira lima atau sepuluh menit sebelum kelas itu bubar. Anda akan melihat perbedaan antara guru yang mengajar secara kreatif dan guru yang mengajar secara tidak kreatif. Biasanya kelas-kelas remaja berfokus pada fakta-fakta cerita Alkitab, bukan pada maknanya. Namun terkadang, kita juga mendengar pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pikiran untuk mencari makna, seperti: "Apakah yang mungkin diperbuat oleh Yohanes, seandainya ia menjadi seorang anak remaja di Sekolah Menengah di sini?" Lalu, Anda dapat mendengar murid-murid Anda bercakap-cakap, berdiskusi, meneliti, menguji pendapat-pendapat mereka sampai makna firman Allah menjadi jelas dan relevan bagi mereka.

    Mengajar para murid untuk menangkap sebuah makna bukanlah hal yang mudah. Seorang guru yang mengajar secara kreatif menyediakan waktu untuk menyelidiki dengan teliti arti dan makna dari pokok-pokok kebenaran yang akan diajarkannya. Dia membawa para muridnya melangkah ke tahap pengertian yang lebih tinggi, sehingga mereka dapat melihat dan dapat menjadi pelaku Firman.

  3. Pelajar Aktif vs Pelajar Pasif
  4. Saya pernah menyaksikan pengajaran seorang guru yang luar biasa di kelas Pratama di Kota Dallas. Delapan belas anak duduk di ruang kelas yang kecil di belakang gereja. Biarpun suasana sesak dan kurang memuaskan, namun guru itu dapat memikat perhatian murid-muridnya selama 45 menit! Dia memiliki kemampuan mengajar dan menggunakan berbagai macam alat peraga. Dia memang guru yang pintar mengajar, tetapi dia bukanlah guru yang kreatif. Anak-anak di kelasnya memerhatikan dan mempelajari sesuatu, tetapi hanya belajar sampai pada dua tahap awal, menghafal dan mengenal. Murid belajar secara pasif.

    Para murid perlu memikirkan sendiri arti kebenaran-kebenaran Alkitab. Mereka harus mengolah ide-ide itu di dalam pikiran mereka, untuk menyatakannya dengan kata-kata mereka sendiri. Para murid perlu diberi kesempatan untuk menyatakan ide-ide mereka dalam pengertian mereka sendiri.

    Ada bermacam-macam cara untuk dapat berpartisipasi di dalam kelas. Murid-murid bisa mendapatkan kesempatan untuk mewarnai gambar di kelas. Guru bisa bertanya atau meminta murid membaca ayat secara bergantian. Guru yang kreatif pasti akan memberi kesempatan kepada murid-muridnya, untuk berpartisipasi dan menyelidiki makna pelajaran secara aktif.

    Makna itu baru akan ditemukan apabila seorang murid berpartisipasi dengan aktif. Para murid perlu memikirkan, merumuskan, menalar, dan menghubungkan kebenaran-kebenaran Alkitab dengan kehidupannya sendiri. Apabila ada kesempatan, perhatikanlah cara mengajar seorang guru yang kreatif: murid-muridnya sibuk menyelidiki makna yang terdapat di balik kebenaran Alkitab.

  5. Guru yang Bercerita vs Guru yang Membimbing
  6. Apabila pelajaran dipusatkan atau difokuskan pada fakta-fakta, tanpa partisipasi murid, maka guru tersebut hanya bercerita. Metode pengajaran dari guru yang mengajar dengan tidak kreatif memunyai dua ciri: metodenya dirancang untuk menyampaikan isi cerita dan aktivitas-aktivitasnya berpusat pada guru saja.

    Seorang guru yang mengajar secara kreatif memunyai konsep yang berbeda tentang peranannya sebagai guru. Tanggung jawab guru ialah membangkitkan minat para murid agar mereka mencari makna pelajaran itu dan menjadi pelaku firman Allah. Guru yang kreatif menganggap aktivitas murid di kelasnya lebih penting daripada aktivitasnya sendiri. Guru yang mengajar secara kreatif bersikap sebagai seorang pembimbing yang memancing para murid untuk mencari makna dari pelajaran mereka.

    Itulah yang dimaksudkan dengan mengajarkan Alkitab secara kreatif. Untuk mencapainya, para guru perlu memusatkan perhatian para murid pada arti atau makna yang terdapat di balik kebenaran Alkitab, melibatkan para murid agar ikut aktif mencari makna pelajaran itu, serta merangsang dan membimbing para murid dalam proses mencari arti atau makna dari pelajaran itu.

Diambil dan diringkas dari:

Judul buku : Mengajarkan Alkitab Secara Kreatif
Penulis : Lawrence O.Richard
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung 1970
Halaman : 95 -- 105
 

Member login

Request new password