Jodoh: Bebet, Bibit, Bobot?

Submitted by admin on Fri, 08/29/2014 - 14:37

 

"Pacarku dan aku sama banget dalam segala hal. la suka main dengan kucing, aku juga. la senang baca buku detektif, aku juga. la doyan makan ketoprak, apalagi aku. Dasar jodoh. Rumah tangga kami nanti pasti rukun." Demikian ucap nona itu sambil menggelayuti bahu pacarnya dengan mania. Benarkah bahwa persamaan minat menjamin kerukunan suami-istri?

Dulu, para sesepuh bahkan berpesan agar mencari jodoh yang sama bebet, sama bibit, dan sama bobot. Artinya, kita memilih pasangan yang pergaulan dan perilakunya seperti kita. Jika kita rakyat, jangan cari pacar ningrat. Jika kita anak kopral, jangan cari anak jendral. Sesepuh itu berujar, "Ya begitu, kalau mau perkawinanmu langgeng kamu mesti sabebet, sabibit, dan sabobot." Benarkah bahwa keutuhan rumah tangga tergantung pada persamaan-persamaan semacam itu?

Tidak! Kerukunan suami-istri bukan tergantung pada persamaan semacam itu. Tidak soal apakah kita menikah dengan ningrat atau rakyat, dengan orang yang suka naik ke gunung atau menyelam di laut. Bukan persamaan semacam itu yang diperlukan. Mustahil suami-istri bisa punya latar belakang dan minat yang segala-galanya sama.

Persamaan yang diperlukan menyangkut hal-hal yang fundamental dan prinsipil. Misalnya mengenai apa hakikat hidup atau rumah tangga dan bagaimana menjalaninya selama sekian puluh tahun mendatang.

Misalnya, jika pacar kita berkukuh, "Tujuan hidupku menikmati kesenangan. Sekarang aku sukses maka aku mau hidup. Tapi nanti kalau aku gagal dan susah, aku akan bunuh diri. Hidup ini kepunyaanku. Jadi, apa aku mau hidup atau mau mati, itu urusanku. Jangan kamu coba-coba menasihatiku." Wah, ini sangat berbeda dengan keyakinan kita. Kita meyakini bahwa baik dalam senang maupun susah hidup ini sangat berharga sebab hidup ini bukanlah milik kita sendiri, melainkan milik seorang Juruselamat yang telah disalib dan bangkit karena mencintai kita. Bisakah kita cocok sebagai suami-istri dengan orang yang begitu berbeda pandangan hidupnya?

Atau, pacar kita berkata, "Nanti kalau kita sudah menikah, masing-masing harus mandiri secara mutlak. Jangan saling berharap. Istri mau ke disko dan pulang tengah malam, itu hak istri. Suami mau berjudi sampai pagi, itu hak suami. Masing-masing bebas." Wah, apakah kita bisa cocok selama puluhan tahun seperti itu? Apa gunanya menikah kalau begitu? Itu bukan rumah tangga, itu hotel. Bukankah kita mau saling peduli dan saling menopang sebagai satu kebersamaan?

Atau, misalnya pacar kita berpesan, "Kalau nanti kita punya anak, apa pun kelakuannya jangan kita tegur dan hukum dia." Wah, apa jadinya anak ini nanti?

Masa pacaran berfungsi untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan pandangan hidup dan gaya hidup. Kedua orang ini lalu berpikir secara matang dan membicarakan segala perbedaan itu.

Tolok ukurnya adalah bertanya kepada diri sendiri secara rasional, "Apakah sepuluh atau dua puluh tahun lagi aku mau menanggung risiko yang muncul akibat perbedaan fundamental ini?"

Ketiga perbedaan di atas ditulis secara karikatural, yaitu dengan penonjolan berlebihan dan melebihi kewajaran. Akan tetapi, perbedaan yang terkesan wajar pada masa pacaran, juga perlu dibicarakan secara matang.

Seorang istri bercerita bahwa dulu pada masa pacaran ia sudah mempersoalkan kebiasaan merokok calon suaminya. Namun, ia berpikir bahwa asap rokok yang cuma kadang-kadang saja masih sanggup ia tanggung. Ternyata setelah menikah ia merasa tertekan oleh kebiasaan suaminya. Soalnya, dulu pada masa pacaran ia menghirup asap rokok hanya beberapa kali seminggu, padahal kini tiap hari. Keluhnya, "Tiap hari aku keramas, tapi rambutku bau rokok terus."

Seorang suami bercerita bahwa pada masa pacaran mereka sering makan di luar karena pacarnya mengaku tidak pandai masak. Suami itu berpikir bahwa sekali-sekali makan di luar tidaklah menjadi soal. Namun, ternyata sudah dua puluh tahun menikah istrinya tetap tidak masak meskipun istrinya tiap hari ada di rumah. Akibatnya mereka makan di luar setiap hari padahal makanan luar tidak terkendali garam, gula, dan lemaknya. Juga, zat pengawet, pewarna, dan pelezatnya. Lagi pula, makan di luar sekian kali lebih mahal daripada masak sendiri. Keluh suaminya, "Dulu makan di luar terasa romantis, namun kini aku stress."

Sia-sia jika istri tadi menyesali diri menikah dengan perokok. Demikian juga dengan suami yang menikahi istri yang tidak mau belajar masak. Mereka masing-masing sudah tahu risiko ini. Akan tetapi, pada masa pacaran mereka berpikir dengan emosi, "Ah, tidak soal, aku cinta dia." Kalau dengan rasio mereka akan berpikir, "Apakah aku mau dan sanggup menanggung risiko ini nanti?"

Yang perlu ditemukan pada masa pacaran bukanlah persamaan-persamaan, melainkan justru perbedaan-perbedaan. Lalu, kita memperhitungkan sejumlah risiko yang akan timbul akibat perbedaan itu.

Berpikir seperti itu adalah berantisipasi, yaitu membuat perhitungan tentang apa yang akan terjadi dan menyusun langkah-langkah yang akan kita lakukan. Masa pacaran adalah untuk berantisipasi.

Walaupun bukan dalam konteks pacaran, melainkan dalam konteks Kerajaan Allah, Yesus menyampaikan cerita yang bertema antisipasi. Sepuluh orang gadis pengiring mempelai bertugas dengan pelita mereka masing-masing untuk menyambut kedatangan rombongan mempelai laki-laki. Akan tetapi, dari sepuluh orang itu hanya lima yang bisa menjalankan tugasnya. Mengapa? Yesus berkata, "Lima orang dari mereka bodoh, dan lima yang lainnya bijaksana. Kelima gadis yang bodoh membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak persediaan. Kelima gadis yang bijaksana membawa pelita bersama-sama dengan minyak persediaan" (Mat. 25:2-4, BIMK). Itu kata kunci cerita: minyak persediaan. Yang berantisipasi dengan membawa minyak persediaan disebut bijaksana oleh Yesus. Sebaliknya yang tidak berantisipasi disebut bodoh.

Menempuh perjalanan hidup pernikahan selama puluhan tahun tentu memerlukan persiapan, yaitu berantisipasi atau membuat perhitungan tentang berbagai risiko yang mungkin akan terjadi. Sambil memercayakan masa depan kepada Tuhan, kita mempersiapkan diri jika yang terjadi adalah yang terburuk, namun kita tetap berharap bahwa yang akan terjadi adalah yang terbaik.

Mustahil pasangan kita itu sama dan serupa dengan kita dalam segala hal. Sekalipun kita sama bebet, sama bibit, dan sama bobot, pasti ada sejumlah perbedaan. Sering kali perbedaan itu menjadi hikmah yang membuat kita saling melengkapi. Persoalannya bukan terletak pada perbedaan, melainkan pada cara bagaimana kita mengelola perbedaan-perbedaan itu.

Diambil dari:

Judul buku : Selamat Berpadu -- 33 Renungan tentang Perbedaan
Judul bab : Jodoh: Bebet, Bibit, Bobot?
Nama penulis : Andar Ismail
Halaman : 19-22
 

Member login

Request new password